Kamis, 05 Agustus 2021

Menguak Dapur Penerbit Mayor

Tema                       :      Menguak Dapur Penerbit Mayor
Nara Sumber          :      Bapak Edi S. Mulyanta
Gelombang            :      19
Moderator              :      Ibu Sri Sugiastuti

Malam ini bagi saya selaku anggota baru pada grup Belajar Menulis, materinya merupakan materi ke 2 yakni “Menguak Dapur Penerbit Mayor” yang dibawakan oleh narasumber Bapak Edi S. Mulyanta dan dipandu oleh moderator Ibu Sri Sugiastuti.

Seperti  biasa kegiatan malam ini dibagi menjadi 3 Sesi

  1. Pembukaan dan Perkenalan Narasumber
  2. Paparan Materi
  3. Tanya Jawab

1.     Pembukaan dan Perkenalan dari narsum

Biodata narasumber bisa dibuka pada link di bawah ini

https://omjaylabs.wordpress.com/2020/04/22/biodata-edi-s-mulyanta/

2.     Paparan materi .

Diawali dengan salam pembuka oleh Bapak Edi S. Mulyanta selaku narasumber pada materi Menguak Dapur Penerbit Mayor. Selanjutnya beliau mengatakan tanpa terasa sudah mencapai gelombang 19 dan 20 Belajar Menulis yang diinisiasi oleh oom Jay, semoga selalu sehat semua di tengah pandemi yang cukup membuat dunia penerbitan dan percetakan terguncang seperti industri yang lain.

Bapak Edi S. Mulyanta mengelola penerbitan dari tahun 2001 sehingga genap 20 tahun berkecimpung di dunia produksi buku. Sebelumnya beliau adalah penulis lepas yang hidup dari menulis buku, hal ini menjawab pertanyaan beberapa calon penulis, apakah bisa hidup dari menulis buku?

Penulis dan penerbit telah dilindungu undang-undang secara penuh sejak terbitnya UU no 3 Tahun 2017 yag diikuti oleh Peraturan Pemerintah, 2 tahun kemudian yaitu PP No 75 tahun 2019.

Dalam  UU no3 dijelaskan dengan detail bagaimana proses industri penerbitan dan unsur-unsur yang ada di dalamnya kemudian disempurnakan dengan PP No 75 yang lebih detail mengatur proses membuat naskah hingga menyebarluaskannya.

Jika ingin menjadi penulis, ada baiknya pelajari dengan seksama  peraturan pemerintah no 75 tersebut, karena dengan PP ini proses penerbitan buku akan mejadi lebih cepat karena ada aturan-aturan yang detail bagaimana  penulis mengajukan naskah hingga penerbit  mengelola naskah menjadi buku. 

Pembagian penerbit mayor dan minor sebenarnya tidak ada dalam Undang-undang perbukuan no 3 tersebut.  Secara alamiah terjadi,  penerbit mayor  mempunyai jumlah produksi yang lebih tinggi dibanding dengan penerbit minor.

Oleh Perpustakaan nasional, kemudian digolongkan kedalam penerbit yang berproduksi ribuan dan ratusan yang terlihat dalam pembagian ISBN yang dikeluarkannya.

Dikotomi penerbit mayor dan minor, kemudian terjadi juga di sisi pemasaran bukunya, dimana ada penerbit yang mampu menjangkau secara nasional dan ada yang regional saja.

Hal ini diperuncing lagi dengan pembagian yang dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi di Indonesia atau Kemendikbud DIKTI, yang mensyaratkan terbitan buku harus berskala nasional penyebarannya.

Kemarin sudah dijelaskan dengan gamblang oleh pak Agus Subardana. Di Era pandemi ini ternyata mengubah pola distribusi buku dengan cukup signifikan,  saluran outlet yang dahulunya jalur utama, saat  menjadi korban dari keganasan virus Covid 19, karena ditutupnya jaringan-jaringan toko buku atau dibatasinya aktivitas pusat perbelanjaan.

Di sisi penerbit, sebagai dapur pengolahan naskah dari penulis,  tidak ada masalah yang cukup berarti dari sisi penerimaan naskah baru masih saja mengalir  cukup baik.  Banyak calon penulis yang melakukan WFH sehingga banyak waktu untuk melakukan penulisan naskah buku.

Tuntutan tetap produktif kepada para pengajar  guru maupun dosen,  naskah baru masih tetap terjaga dengan baik. Yang menjadi kendala dipengolahan naskah, mulai editorial, setting perwajahan dan kover hingga produksi buku cetak.

Outlet toko buku fisik banyak terkendala kebijakan pemerintah, otomatis proses penerbitan buku  melambat menyesuaikan  kondisi output penjualan buku yang melambat.

Dengan PSBB di beberapa daerah,  otomatis Toko buku andalan penerbit yaitu Gramedia memarkirkan bisnisnya di sisi pit stop dan terhenti sama sekali menjadikan omzet terjun bebas berkisar 80-90% penurunannya, berdampak secara langsung ke produksi buku hingga ke sisi penulis buku yang telah memasukkan naskah ke penerbit menanti bersemi di Toko Buku.

Sebelum hari raya 2021, penjualan buku cukup baik, membuat banyak penerbit menaruh harapan cukup tinggi  saat itu. Setelah hari raya,  Covid mengembalikan penjualan buku ke titik terendah sejak 2020, sehingga penerbit akhirnya mencoba outlet-outlet baru.

Pengalaman kami, identifikasi tema buku  penting saat  chaos seperti ini. Kami beruntung tema-tema up to date mengenai corona,  kami tebar ke penulis-penulis  sebelumnya, sehingga  cepat mendapatkan bahan-bahan buku-buku  berkaitan  virus dengan cepat.

Kesiapan penulis,  menuliskan materi dalam buku menjadikan tantangan tersendiri, mengingat sumber rujukan belum tersedia dengan mudah. Kami mempunyai database penulis yang cukup baik, sehingga cepat  mengidentifikasi penulis  berkompeten di bidang ini,  dengan cepat kita meramu materi, kemudian  launch, dan mendapatkan sambutan  baik.

Kesimpulannya  kesiapan penulis updating materi tulisannya, mutlak diperlukan untuk  ditawarkan hasil tulisannya  ke penerbit.

Saat ini  mereposisi produksi buku fisik  tidak dilakukan pencetakan secara massal,  tetapi menyesuaikan  kondisi pasar yang fluktuatif.

Hal ini  memberikan kesempatan lebih lebar kepada bapak-ibu calon penulis  mencoba meamasukan era baru ini,  produksi buku  mengikuti keinginan pasar secara  spesifik.

Produksi saat ini kami coba  dapat memenuhi permintaan cetak dari 10 eksemplar hingga 300 eksemplar. Range produksi disesuaikan dengan daya serap pasar cenderung mengikuti komunitas penulis bukunya. Di samping itu, penjualan online cukup membantu untuk tetap menjaga cash flow dan yang paling penting kita mencoba untuk memproduksi buku dalam bentuk digital atau e-book supaya kesemptan untuk terbit menjadi lebih luas.

Terima kasih Bapak narasumber Edi S. Mulyanta dan Ibu Sri Sugiastuti selaku moderator yang Cepat Tanggap, Cepat Tindak, Cepat Temu dan Cepat Tuntas. Saya sebagai anggota baru merasa sangat termotivasi padahal baru dua materi yang saya dapatkan. Terima kasih banyak Bapak Wijaya Kusuma (OomJay) sebagai Motivator Nasional untuk kami yang baru pemula.

Ini contoh salah satu karya dari Belajar menulis
Semoga bisa membangkitkan semangat bapak ibu sekalian untuk tetap berkarya




Penulis yang mempunyai massa (guru, dosen, penggiat, artis) menjadi magnet yang cukup menarik untuk dapat diterbitkan karyanya.

Penerbitan buku digital, kami bekerjasama dengan Google Books. Bapak ibu bisa mencoba di bukudigital.my.id di situ kami open 20% materi bisa dibaca secara free. Apabila buku digital sudah dibeli, tidak bisa di_sharing_ ke orang lain. File buku tersimpan di Server Google, yang terbukti cukup aman dari proses pengambilan dari orang yang tidak membeli bukunya.


Sebaiknya tali silaturahmi masih tetap dijaga, dengan tidak  sepihak mencabut hak terbit dari penerbit tersebut, meskipun hak tertinggi adalah di Hak CIpta penulis.

Ini contoh buku saya yang masih eksis hingga saat ini.

Buku yang saya tulis tersebut menjadi rujukan dari mahasiswa, peneliti, atau penulis yang lain sehingga berimbas pada pasar buku yang masih terjaga dengan baik, walaupun buku sejenis sudah banyak menyainginya. Rajinlah memberikan definisi, pengertian, penjelasan supaya dirujuk oleh penulis lain.

Sebagai contoh di buku saya menyebutkan definisi file.. akhirnya definisi tersebut dipakai oleh semua orang.. nama kita tercantum di setiap pencarian file

Penerbit buku, adalah hanya perantara saja. Semua tergantung penulis, sehingga posisi penulis sangat vital sekali dalam mengahasilkan sebuah buku. Sehingga sebagai penulis pemula pun, kepercayaan diri harus mulai diasah, dengan menghasilkan karya terbaik.

Demikian  materi yang dapat kami tularkan kepada peserta semoga bisa menginspirasi bapak ibu sekalian.

Terima kasih Bapak narasumber Edi S. Mulyanta dan Ibu Sri Sugiastuti selaku moderator yang Cepat Tanggap, Cepat Tindak, Cepat Temu dan Cepat Tuntas. Saya sebagai anggota baru merasa sangat termotivasi padahal baru dua materi yang saya dapatkan. Terima kasih banyak Bapak Wijaya Kusuma (OomJay) sebagai Motivator Nasional untuk kami yang baru pemula. 






6 komentar:

  1. Siap melakukan yang tebaik..Semangat pak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pendatang baru tapi tulisannya sudah mapan. Semoga segera sampai ke tujuan. Semangat Pak.

      Hapus
    2. Terima kasih Bunda, atas atensi dan bimbingannya saya merasa ada teman yang bisa berbagi dalam hal tuli menulis. sekali lagi terima kasih

      Hapus

DARI MANA IDE MENULIS DATANG?

  Resume ke 11   Pertemuan ke               :       20 Tema                         ...