Resume ke 8
Tema : Konsep Buku Nonfiksi
Gelombang : 20
Moderator : Mr.Bams (Bambang)
Setelah 7 materi yang dapat saya ikuti sebelumnya,
malam ini memasuki materi ke 8 bagi saya. Makin menambah rasa penasaran saya
untuk segera menuntaskan materi yang ada. Karena setiap materi yang dapat saya
ikuti, ada-ada saja pengetahuan yang baru tentang dunia tulis-menulis.
Sebelum saya lanjutkan tulisan ini, tak lupa saya ucapkan mohon maaf kepada Omjay sebab menanyakan materi malam ini sementara beliau kurang sehat. Do’a kami “Semoga cepat pulih kembali, Omjay”
Materi “Konsep Buku Nonfiksi” pada malam ini disajikan oleh narasumber Ibu Musiin, MPd serta akan dipandu oleh moderator yang tidak asing lagi Mr. Bams (Bapak Bambang).
Biodata narasumber Ibu Masiin, M.Pd dapat diunduh pada postingan yang disajikan oleh moderator Mr. Bams. Kesimpulannya narasumber memiliki banyak kesibukan yang luar biasa.
Semangat Agustus terus membara, walau masih didera pandemi. Pandemi tak menyurutkan kita untuk terus belajar dan belajar. Sebelum mulai mari kita doakan untuk kesembuhan Omjay yang sedang kurang sehat, agar Allah sehatkan kembali. Amin!.
1. Tulis nama dan asal
2. Tulis dalam satu chat
3. Kirim pertanyaan dari pukul 19.45 WIB
Moderator dan narasumber saling memberi salam dan
menanyakan kabar masing-masing, serta menyapa para guru hebat. Selanjutnya
moderator mempersilahkan Ibu Masiin. M.Pd untuk menyajikan materinya.
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam sehat. Semoga kegiatan menulis ini menjadi berkah bagi kita semua di masa pandemi Covid-19 dan menjadi penguat imun tubuh kita dan semoga ilmu yang kita peroleh malam ini bermanfaat dunia akhirat, narasumber memberi semangat.
Selanjutnya narasumber mengucapkan rasa hormat kepada Om Jay dan kepada bapak/ibu hebat peserta gelombang 19 dan 20. Serta ucapan terima kasih kepada Om Jay dan Mr. Bams yang telah memberi kesempatan kepada narasumber untuk berbagi sedikit ilmu dan berdiskusi dengan Bapak Ibu.
Narasumber adalah alumni kelas menulis Om Jay gelombang 8 yang juga mendapat kesempatan sekaligus tantangan menulis yang diberikan Prof. Eko. Kami bersembilan telah berhasil menaklukakan tantangan menulis Prof Eko dan buku kami telah berhasil dipajang di toko buku Gramedia secara online maupun offline. Buku karya beliau berjudul Literasi Digital Nusantara. Meningkatkan Daya Saing Generasi.
Beliau telah berhasil mengalahkan ketakutan dari diri beliau sendiri. Ketakutan itu merendahkan potensi narasumber untuk menulis.
Beliau yakin Bapak Ibu pasti juga mampu menjadi PEMENANG DENGAN MENERBITKAN TIDAK HANYA 1 buku namun puluhan buku.
1. Takut tidak ada yang membaca.
2. Takut salah dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan.
3. Merasa karya orang lain lebih bagus
Ketakutan itu yang sering kali membuat beliau konyol dengan hanya duduk berjam-jam di depan laptop, namun tidak menulis apapun.
Akhirnya beliau singgah di Kelas menulis Om Jay dan bertemu dengan banyak penulis pemula dan pemateri hebat, salah satunya adalah Prof Eko. Dan cahaya untuk berkarya berasal dari diri beliau sendiri. beliau yang minder untuk menulis, menjadi berani untuk menulis. Kegiatan menulis ternyata sangat menyenangkan. Bapak ibu jangan sampai menjadikan kegiatan menulis, sebagai contoh menulis resume kelas Om Jay menjadi sebuah mimpi buruk.
Prof. Eko, narasumber ibaratkan sebagai seorang Master Chef yang memberi banyak pilihan bahan masakan yang bisa kita olah menjadi berbagai jenis hidangan. Pilihannya ada pada diri masing-masing peserta. Bahan masakan yang disediakan Prof Eko, bisa kita peroleh di Prof EKOJI Channel. Seperti yang disampaikan Prof Eko, Bapak Ibu bisa menulis sesuai dengan hobi, kegemaran, kesukaan, cerita, atau sesuatu yang dikuasai dan dicintai. Pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang dimiliki adalah bentuk buku yang ada di dalam diri kita yang belum dikeluarkan. narasumber memiliki buku, Bapak Ibu juga memiliki buku, NAMUN buku tersebut MASIH belum lahir.
Ini
dia pertanyaan yang sangat menusuk hati kita "IS THERE A BOOK INSIDE YOU?"
Dan Poynter, menulis sebuah buku yang sangat populer dan menjadi rujukan para penulis pemula, judulnya Is There A Book Inside You? Setiap orang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan di dalam dirinya.
Berapa ratus purnama telah kita lalui, berapa banyak kejadian entah itu pahit atau manis mengukir perjalanan hidup kita. Jadi, semua tergantung pada individu masing-masing apakah mau dikeluarkan dalam bentuk buku atau tidak. Atau hanya dikeluarkan dalam bentuk pengajaran di kelas-kelas saja atau hanya dalam bentuk obrolan atau cerita kepada anak cucu saja, yang tidak meninggalkan jejak keabadian.
Bapak Ibu yang hebat, menulis bukanlah keterampilan yang mudah. Berbagai penelitian bahasa menunjukkan di antara empat keterampilan berbahasa, menulis dianggap paling sulit. Menulis tidak semudah berbicara, semudah bergosip . Justru tantangannya ada karena sulit. Perjuangan menjadi penulis dengan mengikuti kelas menulis, membuat resume, menghasilkan buku, maka akan lahir CINTA MENULIS.
3. Mengembangkan profesi sebagai seorang guru.
Kutipan terkenal dari Imam Ghazali dan Pramoedya Ananta Toer menjadi penguat mengapa beliau ingin menjadi penulis.
Pola yang narasumber pakai dalam menulis buku Literasi Digital Nusantara adalah pola ketiga yakni Pola Klaster.
1. Pratulis
2. Menulis Draf
3. Merevisi Draf
4. Menyunting Naskah
1. Menentukan tema
2. Menemukan ide
3. Merencanakan jenis tulisan
4. Mengumpulkan bahan tulisan
5. Bertukar pikiran
6. Menyusun daftar
7. Meriset
8. Membuat Mind Mapping
Tema bisa ditentukan satu saja dalam sebuah buku. Tema dari buku nonfiksi adalah parenting, pendidikan, motivasi dll.
1. Pengalaman pribadi
2. Pengalaman orang lain
3. Berita di media massa
4. Status Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram
5. Imajinasi
6. Mengamati lingkungan
7. Perenungan
Jadi Bapak Ibu penulis hebat, semua hal bisa menjadi ide tulisan kita.
Sekarang kembali ke buku yang beliau tulis. Tema yang diangkat di buku beliau adalah pendidikan. Ide berasal dari berita di media massa, mengamati lingkungan serta diperkuat dari materi di Prof EKOJI Channel dengan judul Digital Mindset (The Key to Transform Your Organization) yang tayang pada tanggal 20 Maret 2020.
Beliau
seorang guru Bahasa Inggris di SMP.
Bapak Ibu pasti bertanya-tanya dari angin mana menulis tentang literasi
digital.
Referensi
berasal dari data dan fakta yang beliau peroleh dari literasi di internet.
1. Pengetahuan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal ;
2. Keterampi lan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal ;
3. Pengalaman yang diperoleh sejak bal i ta hingga saat ini ;
4. Penemuan yang telah didapatkan.
Tahap
berikutnya membuat kerangka.Kerangka ini beliau ajukan ke Prof. Eko dan
disetujui untuk melanjutkan ke proses penulisan.
A. Pembagian Generasi Pengguna Internet
B. Karakteristik Generasi Dalam Berinternet
BAB 2 Media Sosial
A. Media Sosial
B. UU ITE
C. Kejahatan di Media Sosial
BAB 3 Literasi Digital
A. Pengertian
B. Elemen
C. Pengembangan
D. Kerangka Literasi Digital
E. Level Kompetensi Literasi Digital
F. Manfaat
G. Penerapan Literasi Digital Pada Lintas Geerasi
H. Kewargaan Digital
BAB 4 Ekosistem Literasi Digital Di Nusantara
A. Keluarga
B. Sekolah
C. Masyarakat
BAB 5 Literasi Digital Untuk Membangun Digital Mindset Warganet +62
A. Perkembangan Gerakan Literasi Digital Di Indonesia
B. Literasi Digital Tanpa Digital Mindset Di Indonesia
Channel juga akan memberikan materi kepada Bapak Ibu dan langkah channel sangat mujarab. Tulisan kita menjadi rapi dan tertata sejak awal. Daftar isi, kutipan, indeks dan daftar pustaka tertata secara otomatis.
Berikut
ini adalah anatomi sebuah buku non-fiksi.
1. Halaman Judul
2. Halaman Persembahan (OPSIONAL)
3. Halaman Daftar Isi
4. Halaman Kata Pengantar (OPSIONAL, minta kepada tokoh yang berpengaruh)
5. Halaman Prakata
6. Halaman Ucapan Terima Kasih (OPSIONAL)
7. Bagian /Bab
8. Halaman Lampiran (OPSIONAL)
9. Halaman Glosarium
10. Halaman Daftar Pustaka
11. Halaman Indeks
Mengapa
anatomi buku ini harus ada?
Jika nanti Bapak Ibu mengikuti ujian sertifikasi penulis, Bapak Ibu akan ditanya seputar anatomi buku. Seandainya Bapak Ibu memakai jalur portofolio, buku yang Bapak Ibu tulis pasti akan dilihat anatomi bukunya.
Menulis Draf
1. Menuangkan konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas
Merevisi Draf
1. Merevisi sistematika/struktur tulisan dan penyajian
Menyunting naskah (KBBI dan PUEBI)
1. Ejaan
2. Tata bahasa
3. Diksi
4. Data dan fakta
KBBI online sangat membantu penulis dalam menyunting naskah.
Langkah
kelima atau terakhir adalah MENERBITKAN.
Bagaimana
dengan hambatan-hambatan dalam menulis? Pasti ada Bapak Ibu. Kalau lewat jalan
mulus tidak berlobang pasti mengantuk. Jadi ya harus bertemu dengan aral dan
rintangan.
1. Hambatan waktu
2. Hambatan kreativitas
3. Hambatan teknis
4. Hambatan tujuan
1. Banyak membaca
2. Mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan nara sumber.
3. Disiplin menulis setiap hari.
Silakan cari obat
untuk kesulitan sesuai dengan kondisi Bapak Ibu.
Demikian sharing pengalaman dari narasumber. Semoga ilmu yang sedikit ini bisa membantu Bapak Ibu menaklukkan tantangan untuk menulis buku non-fiksi.
Moderator
mempersilahkan memasuki sesi tanya jawab :
Dari
10 pertanyaan para guru hebat yang masuk pada moderator, kesimpulan jawaban
dari narasumber hampir sama yaitu untuk menjadi penulis harus berani memulai
karena banyak juga orang yang gagal sebelum memulai. Intinya adalah mulailah
menulis dari hal yang terdekat dan berkesan bagi bapak/ibu.namun bagi saya selaku
anggota di WA belajar menulis dibawah asuhan Omjay ada hal yang perlu saya
garis bawahi yaitu tentang tulisan nonfiksi itu sendiri.
• Otobiografi.
• Esai.
• Opini.
• Memoar.
• Jurnal.
• Biografi.
• Buku pedoman.
• Karya tulis ilmiah (skripsi, tesis, disertasi)






mantap, teruslah menulis dan buktikan apa yang terjadi
BalasHapusTerima kasih dan mudah-mudahan bisa sama-sama sukses
BalasHapusMeskipun lambat memulai tapi tancap gas jauh melejit. Semoga mahkotanya tiba bersama. Semangat terus, Pak.
BalasHapus