Nara Sumber : Bapak Edi S. Mulyanta
Gelombang : 19
Moderator : Ibu Sri Sugiastuti
Malam ini bagi saya selaku
anggota baru pada grup Belajar Menulis, materinya merupakan materi ke 2 yakni
“Menguak Dapur Penerbit Mayor” yang dibawakan oleh narasumber Bapak Edi S.
Mulyanta dan dipandu oleh moderator Ibu Sri Sugiastuti.
Seperti biasa kegiatan malam ini dibagi menjadi 3 Sesi
- Pembukaan dan Perkenalan Narasumber
- Paparan Materi
- Tanya Jawab
1. Pembukaan dan Perkenalan dari narsum
Biodata narasumber bisa dibuka pada link di bawah ini
https://omjaylabs.wordpress.com/2020/04/22/biodata-edi-s-mulyanta/
2.
Paparan materi .
Diawali dengan salam pembuka oleh
Bapak Edi S. Mulyanta selaku narasumber pada materi Menguak Dapur Penerbit
Mayor. Selanjutnya beliau mengatakan tanpa terasa sudah mencapai gelombang 19
dan 20 Belajar Menulis yang diinisiasi oleh oom Jay, semoga selalu sehat semua
di tengah pandemi yang cukup membuat dunia penerbitan dan percetakan terguncang
seperti industri yang lain.
Bapak Edi S. Mulyanta mengelola
penerbitan dari tahun 2001 sehingga genap 20 tahun berkecimpung di dunia
produksi buku. Sebelumnya beliau adalah penulis lepas yang hidup dari menulis
buku, hal ini menjawab pertanyaan beberapa calon penulis, apakah bisa hidup
dari menulis buku?
Penulis dan penerbit telah
dilindungu undang-undang secara penuh sejak terbitnya UU no 3 Tahun 2017 yag
diikuti oleh Peraturan Pemerintah, 2 tahun kemudian yaitu PP No 75 tahun 2019.
Dalam UU no3 dijelaskan dengan detail bagaimana proses industri penerbitan dan unsur-unsur yang ada di dalamnya kemudian disempurnakan dengan PP No 75 yang lebih detail mengatur proses membuat naskah hingga menyebarluaskannya.
Jika ingin menjadi penulis, ada baiknya pelajari dengan seksama peraturan pemerintah no 75 tersebut, karena dengan PP ini proses penerbitan buku akan mejadi lebih cepat karena ada aturan-aturan yang detail bagaimana penulis mengajukan naskah hingga penerbit mengelola naskah menjadi buku.
Pembagian penerbit mayor dan
minor sebenarnya tidak ada dalam Undang-undang perbukuan no 3 tersebut. Secara alamiah terjadi, penerbit mayor mempunyai jumlah produksi yang lebih tinggi
dibanding dengan penerbit minor.
Oleh Perpustakaan nasional,
kemudian digolongkan kedalam penerbit yang berproduksi ribuan dan ratusan yang
terlihat dalam pembagian ISBN yang dikeluarkannya.
Dikotomi penerbit mayor dan
minor, kemudian terjadi juga di sisi pemasaran bukunya, dimana ada penerbit
yang mampu menjangkau secara nasional dan ada yang regional saja.
Hal ini diperuncing lagi dengan
pembagian yang dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi di Indonesia atau
Kemendikbud DIKTI, yang mensyaratkan terbitan buku harus berskala nasional
penyebarannya.
Kemarin sudah dijelaskan dengan gamblang oleh pak Agus Subardana. Di Era pandemi ini ternyata mengubah pola distribusi buku dengan cukup signifikan, saluran outlet yang dahulunya jalur utama, saat menjadi korban dari keganasan virus Covid 19, karena ditutupnya jaringan-jaringan toko buku atau dibatasinya aktivitas pusat perbelanjaan.
Di sisi penerbit, sebagai dapur
pengolahan naskah dari penulis, tidak
ada masalah yang cukup berarti dari sisi penerimaan naskah baru masih saja
mengalir cukup baik. Banyak calon penulis yang melakukan WFH
sehingga banyak waktu untuk melakukan penulisan naskah buku.
Tuntutan tetap produktif kepada
para pengajar guru maupun dosen, naskah baru masih tetap terjaga dengan baik. Yang
menjadi kendala dipengolahan naskah, mulai editorial, setting perwajahan dan
kover hingga produksi buku cetak.
Outlet toko buku fisik banyak
terkendala kebijakan pemerintah, otomatis proses penerbitan buku melambat menyesuaikan kondisi output penjualan buku yang melambat.
Dengan PSBB di beberapa daerah, otomatis Toko buku andalan penerbit yaitu
Gramedia memarkirkan bisnisnya di sisi pit stop dan terhenti sama sekali menjadikan
omzet terjun bebas berkisar 80-90% penurunannya, berdampak secara langsung ke
produksi buku hingga ke sisi penulis buku yang telah memasukkan naskah ke
penerbit menanti bersemi di Toko Buku.
Sebelum hari raya 2021, penjualan
buku cukup baik, membuat banyak penerbit menaruh harapan cukup tinggi saat itu. Setelah hari raya, Covid mengembalikan penjualan buku ke titik
terendah sejak 2020, sehingga penerbit akhirnya mencoba outlet-outlet baru.
Pengalaman kami, identifikasi
tema buku penting saat chaos seperti ini. Kami beruntung tema-tema up
to date mengenai corona, kami tebar ke
penulis-penulis sebelumnya,
sehingga cepat mendapatkan bahan-bahan
buku-buku berkaitan virus dengan cepat.
Kesiapan penulis, menuliskan materi dalam buku menjadikan
tantangan tersendiri, mengingat sumber rujukan belum tersedia dengan mudah.
Kami mempunyai database penulis yang cukup baik, sehingga cepat mengidentifikasi penulis berkompeten di bidang ini, dengan cepat kita meramu materi, kemudian launch, dan mendapatkan sambutan baik.
Kesimpulannya kesiapan penulis updating materi tulisannya,
mutlak diperlukan untuk ditawarkan hasil
tulisannya ke penerbit.
Saat ini mereposisi produksi buku fisik tidak dilakukan pencetakan secara massal, tetapi menyesuaikan kondisi pasar yang fluktuatif.
Hal ini memberikan kesempatan lebih lebar kepada
bapak-ibu calon penulis mencoba
meamasukan era baru ini, produksi buku mengikuti keinginan pasar secara spesifik.
Produksi saat ini kami coba dapat memenuhi permintaan cetak dari 10 eksemplar hingga 300 eksemplar. Range produksi disesuaikan dengan daya serap pasar cenderung mengikuti komunitas penulis bukunya. Di samping itu, penjualan online cukup membantu untuk tetap menjaga cash flow dan yang paling penting kita mencoba untuk memproduksi buku dalam bentuk digital atau e-book supaya kesemptan untuk terbit menjadi lebih luas.
Terima kasih Bapak narasumber Edi
S. Mulyanta dan Ibu Sri Sugiastuti selaku moderator yang Cepat Tanggap, Cepat
Tindak, Cepat Temu dan Cepat Tuntas. Saya sebagai anggota baru merasa sangat
termotivasi padahal baru dua materi yang saya dapatkan. Terima kasih banyak
Bapak Wijaya Kusuma (OomJay) sebagai Motivator Nasional untuk kami yang baru
pemula.
Penulis yang mempunyai massa (guru, dosen, penggiat, artis) menjadi magnet yang cukup menarik untuk dapat diterbitkan karyanya.
Penerbitan buku digital, kami bekerjasama dengan Google Books. Bapak
ibu bisa mencoba di bukudigital.my.id di situ kami open 20% materi bisa dibaca
secara free. Apabila buku digital sudah dibeli, tidak bisa di_sharing_ ke orang
lain. File buku tersimpan di Server Google, yang terbukti cukup aman dari
proses pengambilan dari orang yang tidak membeli bukunya.
Sebaiknya tali silaturahmi masih
tetap dijaga, dengan tidak sepihak
mencabut hak terbit dari penerbit tersebut, meskipun hak tertinggi adalah di
Hak CIpta penulis.
Ini contoh buku saya yang masih
eksis hingga saat ini.
Buku yang saya tulis tersebut
menjadi rujukan dari mahasiswa, peneliti, atau penulis yang lain sehingga
berimbas pada pasar buku yang masih terjaga dengan baik, walaupun buku sejenis
sudah banyak menyainginya. Rajinlah memberikan definisi, pengertian, penjelasan
supaya dirujuk oleh penulis lain.
Sebagai contoh di buku saya menyebutkan definisi file.. akhirnya definisi tersebut dipakai oleh semua orang.. nama kita tercantum di setiap pencarian file
Penerbit buku, adalah hanya perantara saja. Semua tergantung penulis, sehingga posisi penulis sangat vital sekali dalam mengahasilkan sebuah buku. Sehingga sebagai penulis pemula pun, kepercayaan diri harus mulai diasah, dengan menghasilkan karya terbaik.
Demikian materi yang dapat kami tularkan kepada peserta semoga bisa menginspirasi bapak ibu sekalian.
Terima kasih Bapak narasumber Edi
S. Mulyanta dan Ibu Sri Sugiastuti selaku moderator yang Cepat Tanggap, Cepat
Tindak, Cepat Temu dan Cepat Tuntas. Saya sebagai anggota baru merasa sangat
termotivasi padahal baru dua materi yang saya dapatkan. Terima kasih banyak
Bapak Wijaya Kusuma (OomJay) sebagai Motivator Nasional untuk kami yang baru
pemula.








Mantap tulisannya, semangat
BalasHapusTerima kasih, pak
HapusSiap melakukan yang tebaik..Semangat pak..
BalasHapusTerima kasih, bunda
HapusPendatang baru tapi tulisannya sudah mapan. Semoga segera sampai ke tujuan. Semangat Pak.
HapusTerima kasih Bunda, atas atensi dan bimbingannya saya merasa ada teman yang bisa berbagi dalam hal tuli menulis. sekali lagi terima kasih
Hapus