Jumat, 13 Agustus 2021

PROOFREADING SEBELUM MENERBITKAN BUKU

 Resume ke 6


Pertemuan ke              :      15
Tema                           :      Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku
Narasumber                :      Susanto, S.Pd
Gelombang                 :      20
Moderator                   :      Maesaroh, M.Pd

Pada materi ke 6 malam ini " Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku " dengan narasumber Bapak Susanto, S.Pd serta dipandu oleh moderator Ibu Maesaroh, M.Pd, Alhamdulillah saya merasa mendapat satu lagi perbendaharaan pengetahuan pada dunia tulis menulis. Yang saya tahu selama ini untuk membuat tulisan hanya merangkai huruf demi huruf untuk menjadi kata, merangkai kata demi kata menjadi kalimat, serta merangkai kalimat demi kalimat menjadi sebuah paragraf dan selanjutnya merangkai paragraf demi paragraf menjadi sebuah karangan atau tulisan.

Ternyata tidak demikian, untuk membuat sebuah tulisan tentunya diawali dengan mempelajari berbagai istilah atau pengetahuan yang berkaitan dengan dunia tulis menulis agar tulisan yang kita hasilkan tidak ngawur atau asal-asalan. Karena menurut para pakar literasi, bahwa tulisan yang baik adalah mudah dipahami atau dimengerti oleh pembacanya atau penikmatnya sesuai dengan harapan penulisnya. Dengan kata lain tulisan yang dihasilkan tidak multitafsir bagi dua orang atau lebih dari pembacanya.

Satu harapan saya untuk materi yang ke 6 malam ini, mudah-mudahan Om Jay selaku Pembina dari Grup Belajarmenulis ini ada kesempatan untuk membaca serta mengoreksi tulisan resume yang saya buat. Apapun komentar Beliau, saya terima dengan senang hati sebagai bentuk pembelajaran bagi saya.

Moderator Ibu Maesaroh, M.Pd malam ini memulai materi dengan memberi salam kepada pegiat literasi se-Nusantara. Ibu moderator juga memperkenalkan secara singkat data narasumber yang membawakan materi Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku pada malam ini. Adapun data singkat pemateri malam ini adalah Narasumber hebat  bernama Susanto, S.Pd atau akrab disapa dengan sebutan Pak D Susanto. Beliau akan memandu kita bagaimana tulisan bisa terpublikasi dengan baik tanpa ada kesalahan dalam menulis atau dikenal dengan istilah "Typo", kesalahan ejaan atau pun tanda baca.

Beliau merupakan seorang Guru Kelas SDN Mardiharjo, Kab. Musi Rawas, Prov. Sumatera Selatan, yang dilahirkan Gombong Kebumen, 29 Juni 1971. Seorang sarjana S1 PGSD ini sangat mahir dalam editing sehingga kemahiran itu mengantarkan beliau menjadi seorang editor pada komunitas pelatihan menulis asuhan Om Jay.

Kuliah malam ini, dibagi menjadi 4 segmen:
1. Pembukaan
2. Penjabaran materi (19.00-20.00 WIB)
3. Sesi Tanya Jawab (20.00-21.00WIB)
4. Penutup (21.00-selesai)

1. Pembukaan
Moderator membuka materi malam ini dengan ucapan Basmalah karena pemandu acara adalah seorang muslim, sambil mengajak para pegiat literasi untuk berdoa sesuai keyakinan masing-masing agar diberi kelancaran dalam mengikuti materi ini.

Selanjutnya moderator mempersilahkan narasumber Bapak Susanto, S.Pd untuk menyajikan materi yang akan dibawakan, yaitu Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku. Materi diawali dengan mengaitkan dengan materi sebelumnya oleh Pak "Mazmo" Sudomo, yakni materi Swasunting, dilakukan setelah selesai menulis, jangan menyunting sambil menulis, fokus penyuntingan pada kesalahan penulisan, ejaan, kata baku, aturan penulisan, dan logika cerita. Selain itu harus kejam pada tulisan sendiri. Terakhir adalah berpegangan pada KBBI dan PUEBI.

Beliau (narasumber) meyakini banyak diantara  Bapak atau Ibu yang sudah menjadi Proofreader atau bahkan editor pada penerbitan.

2. Penjabaran materi (19.00-20.00 WIB)

Proofreading sebelum Menerbitkan Tulisan

Beliau, bukan "proofreader profesional atau editor profesional
Namun, beberapa teman di grup menulis, memberi kesempatan untuk membaca naskah-naskah mereka 
lalu meminta saya untuk mengedit tulisannya.

 
Beberapa buku karya teman yang beliau ikut di dalamnya sebagai editor di antaranya:
 
1.   Kunci Sukses Menjadi Moderator Online (Aam Nurhasanah), Desember 2020.
2.  Patidusa Pujangga Wiyata, Antologi Puisi Nusantara Bergema (Aam Nurhanasa, dkk),                 Januari 2021.
3.  Bait-bait Kerinduan, Antologi Puisi Ungkapan Rasa Rindu (Rofiana, S.Pd., dkk), Maret               2021, Januari 2021.
4.  Haru Biru Perjalananku, Catatan Perjalanan Tugas Kepala Sekolah Daerah Terpencil dan             Satu  Atap (“Ambu” Tini Sumartini), Maret 2021.
5.  Merajut Goresan Tinta Berbuah Karya (Herni Sunarya Banah, S.Pd.),…Maret 2021
6.  Purwakarya Literasi, antologi peserta Gel 18 (2021)
7.  Membongkar Rahasia Menulis ala Guru Blogger (Bersama Bu Noralia Puspa Yunita dkk), Juli 2021.

Proofreading atau kadang disebut dengan uji-baca adalah membaca ulang sebuah tulisan, tujuannya adalah untuk memeriksa apakah terdapat kesalahan dalam teks tersebut. Intinya, Proofreading adalah aktivitas memeriksa kesalahan dalam teks dengan cermat sebelum dipublikasikan. Oleh karena itu, kegiatan ini sesungguhnya adalah kegiatan akhir setelah tulisan diselesaikan.

Dalam hal ini sangat sesuai dengan nasihat para pakar menulis, yakni: "Tulis saja, jangan pedulikan teknis. Salah nggak papa mumpung ide masih mengalir. Jika sudah selesai, barulah kita lakukan editing."

Yang sering terjadi
Ketika "sedang" menulis, muncul keinginan agar tulisan ini harus sempurna. Sehingga, muncul kehawatiran: nanti tulisan jelek, tdak layak baca, banyak kesalahan ejaan, kalimatnya tidak pas, dan sebagainya. Akhirnya terjebak untuk segera memperbaiki.

Hal lain (biasanya seorang blogger) ingin segera menerbitkan tulisan. Begitu selesai menulis, mungkin karena mengejar target atau ingin segera mempublikasikan, langsung klik tombol kirim.

Yang pertama, alih alih tulisan menjadi lebih baik, malah tulisan "nggak jadi-jadi".
Untuk yang kedua, maksud hati membuat tulisan yang menarik, akibat kekurangcermatan dalam pengetikan tulisan di blog, tulisan menjadi berkurang nilai kemenarikannya. Sayang, ya?

Oleh karena itu, proofreading sangat penting. Ketimbang kita "menyewa" proofreader, lebih baik kita lakukan sendiri, 'kan? Dalam proofreading, memeriksa apakah terdapat kesalahan dalam teks yang dimaksud adalah memeriksa kesalahan penggunaan tanda baca, ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah, hingga pemenggalan kata.

Sementara Editing lebih fokus pada aspek kebahasaan, sedangkan proofreading selain aspek kebahasaan, juga harus memperhatikan isi atau substansi dari sebuah tulisan.

Jadi, proofreading tidak sekadar menyoroti kesalahan tanda baca atau ejaan, tetapi juga logika dari sebuah tulisan, apakah sudah masuk di akal atau belum.

Ada juga yang berpendapat:

Pengeditan merupakan proses yang melibatkan perubahan besar pada konten, struktur, dan bahasa, sedangkan proofreading hanya berfokus pada kesalahan kecil dan inkonsistensi.

Tugas seorang proofreader bukan hanya membetulkan ejaan atau tanda baca, juga harus memastikan bahwa tulisan yang sedang ia uji-baca bisa diterima logika dan dipahami pembacanya. Ia harus dapat mengenali apakah sebuah kalimat efektif, strukturnya sudah tepat atau belum, hingga memastikan agar substansi tulisan dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca.

Anda yang jago bahasa asing, jika mendapatkan tugas untuk menguji-baca sebuah teks terjemahan. Output yang dihasilkannya adalah sebuah teks yang mudah dipahami meski bagi orang yang tidak mengetahui bahasa asal teks terjemahan tersebut.

kesimpulannya, tugas seorang proofreader adalah untuk membuat teks mudah dipahami pembaca dan tidak kehilangan substansi awalnya.

Cerita pengalaman sedikit ketika menjadi proofreader dan mengedit naskah antologi teman-teman.
Ada tulisan yang sudah bagus, uraian sesuai tema, struktur bahasanya bagus, kalimat yang digunakan tidak terlalu panjang, tetapi terjadi kesalahan dalam meletakkan tanda koma atau tanda baca lainnya.

Ada juga tulisan yang masih "kacau" dari segi struktur, misalnya karena kalimatnya berupa kalimat majemuk yang terdiri dari banyak sekalai kalimat tunggal, maka proofreader harus bisa memanngkasnya dan menjadikannya kalimat yang mudah dipahami. Tentu substansi dan maksud penulis tidak berubah.

Sebagai penulis kita juga bertindak sebagai proofreader, sebelum tulisan dipublikasikan di blog atau naskah buku dikirimkan ke penerbit. Jika kita diminta menjadi proofreader tulisan orang lain, proofreader bersifat netral, menilai karya secara objektif. Bertindak sebagai seorang “pembaca” dan menilai apakah karya penulis sudah bisa dimengerti atau justru berbelit-belit. Harapannya, karya sang penulis bisa lebih mudah dipahami pembaca.

Bagaimana melakukanProofreading?
Selaras dengan pesan Mazmo
1.  Cek ejaan. Ejaan ini merujuk ke KBBI, tetapi ada beberapa kata yang mencerminkan gaya penerbit
2.  Pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI
3.  Konsistensi nama dan ketentuan
4.  Perhatikan judul bab dan penomorannya

Jika Anda seorang blogger.
Menghindari kesalahan kecil yang tidak perlu misalnya typo atau kesalahan penulisan kata dan penyingkatan kata. Pembaca Anda juga harus diperhatikan. Tidak ada kesalahan penulisan (typo) akan membuat pembaca nyaman. Kesalahan kecil lainnya misalnya, memberi spasi (jarak) kata dan tanda koma, tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Tanda-tanda baca  tidak boleh diketik terpisah dari kata yang mengikutinya.

Cara mudah untuk memeriksa tulisan.
Baik di Ms Word maupun di blog saya biasanya melakukan pencarian dengan menekan tombol CTRL bersamaan dengan tombol huruf F (CTRL+F).  Lalu, ketikkan misalnya tanda "," (tanda koma). Maka muncul highlight teks dengan warna kuning. Setelah itu kita periksa apakah ada kesalahan atau ada spasi antara kata dengan tanda koma. Hal yang sama lakukan pada tanda baca lainnya. Jika hal ini kita lakukan maka pos blog menjadi bersih dari kesalahan pengetikan. Kesalahan kecil lainnya yang biasa dilakukan adalah penulisan di- sebagai awalan dan di sebagai kata depan. 

Beliau pribadi selalu “terganggu” jika "kesalahan kecil" ini ada dalam tulisan. 
Oleh karena itu perlu sedikit keterampilan untuk membedakan keduanya.

Jika kata yang mengikuti di adalah verba atau kata kerja maka di ditulis serangkai dan kata itu ada bentuk aktifnya yaitu jika diberi imbuhan me-. 

Aturan ejaan lainnya yang ada dalam PUEBI wajib kita pahami. Meskipun blog tidak mensyaratkan bahasa yang baku (kan suka-suka penulisnya) tetapi minimal wajib tahu dan menerapkan aturan-aturan yang dicontohkan. Kita cinta Bahasa Indonesia, ‘kan?

Contoh sederhana proofreading:

Teks asli

Membuat cerita fiksi memang sedikit berbeda dengan cerita non fiksi. Tetapi cerita non fiksi dapat disampaikan dengan gaya cerita fiksi agar lebih menarik. Tentu sepanjang tidak bertentangan dengan aturan penulisan karya non fiksi yang telah ditentukan, seperti makalah ilmiah, laporan penelitian, dan sejenisnya.

Teks Perbaikan

Membuat cerita fiksi memang sedikit berbeda dengan cerita nonfiksi. Tetapi, cerita nonfiksi dapat disampaikan dengan gaya cerita fiksi agar lebih menarik. Tentu sepanjang tidak bertentangan dengan aturan penulisan karya nonfiksi yang telah ditentukan, seperti makalah ilmiah, laporan penelitian, dan sejenisnya.

Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara). Misalnya: Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup. Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.

Jadi, jika beliau melakukan proofreading  menggunakan Alat Bantu, yaitu 
1. PUEBI daring; 
2. KBBI daring

Dari 10 pertanyaan yang masuk, beliau (narasumber) menutup materinya dengan kalimat :
"Pahami struktur kalimat, pahami PUEBI, buka KBBI jika ragu dengan kata-kata tertentu"

Tambahan ada beberapa flyer sebagai tambahan bahan materi dari narasumber :






Kita tidak mungkin menguasai segalanya, hanya orang-orang tertentu yang ditakdirkan memiliki kompetensi: penulis, proofreader, editor, sekaligus. Namun setidaknya sebagai penulis memiliki keterampilan minimal sebagai penyunting tulisan sendiri, agar calon pembaca kita memahami apa yang kita maksudkan dalam tulisan. Kalimatmu jangan panjang-panjang, usahakan maksimal 20 kata saja. 
Kalimat terakhir dari narasumber.







































 










 

 


 

2 komentar:

  1. Ke-6 tapi sukses habis. Mantap, Pak. Semoga semakin lancar ke depannya. Dwngan proofreading, tulisan menjadi lebih menarik dan mudah dipahami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak atas atensi dan bimbingannya, Bunda

      Hapus

DARI MANA IDE MENULIS DATANG?

  Resume ke 11   Pertemuan ke               :       20 Tema                         ...