Pertemuan Ke : 12
Tema : Menjadi Penulis Buku Mayor
Nara Sumber : Bapak
Joko Irawan Mumpuni
Gelombang : 19
& 20
Moderator : Mr
Bams (Bapak Bambang)
Assalamu
Alaikum War. Wab., Salam sejahtera untuk kita semua, syukur Alhamdulillah
setelah sore hari tadi menjelang Magrib Desa Galumpang di mana saya bertempat
tinggal diguyur hujan begitu deras, tetapi menjelang malam tanda kebesaran Sang
Pencipta mulai reda. Betapa kecil dan tak berdayanya kita sebagai makhluk
dihadapan Tuhan Semesta Alam, Allah SWT.
Begitu mendapat info dari WA Grup Belajar Menulis untuk materi malam ini “Menjadi Penulis Buku Mayor” dengan narasumber Bapak Joko Irawan Mumpuni yang dipandu oleh moderator yang mumpuni juga Bapak Mr Bams (Bapak Bambang). Saya sebagai anggota baru bertanya dalam hati (saya ungkapkan lewat tulisan) “Apakah saya sebagai anggota baru bisa Menjadi Penulis Buku Mayor?” apalagi dipandu oleh sosok pakar yang tentunya sangat ahli di bidangnya sesuai dengan nama belakang beliau yang tentunya juga mencari pakar-pakar penulis yang tergabung dalam binaan Om Jay.
Materi diawali dengan salam pembuka serta salam sehat juga.. Sebelum memulai paparan beliau memperkenal diri. Indentitas singkat narasumber:
Sudah hampir 20 tahun narasumber menghidupi dunia penerbitan, penulisan dan aktif di asosiasi penerbit di
Indonesia membuat narasumber selalu bersemangat jika diajak berdiskusi seputaran
Peberbitan dan penulisan buku.
Pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke narasumber adalah apa syaratnya agar tulisan kita bisa diterbitkan oleh penebit mayor?
Kreteria penerbiat Mayor itu apasih, lalu apa bedanya dengan penerbit minor atau penerbit Indie yang mulai banyak bermunculan akhir-akhir ini?
Sebelum teknologi informasi berkembang pesat, orang hanya mengenal penerbit Mayor dan Minor, masing-masing punya pendapat yang membedakan penerbit mayor dan minor. Satu kesimpulan yang pasti yaitu Jumlah terbitan buku pertahun penerbit mayor jauh lebih banyak dibanding penerbit minor.
Mengapa penulis merasa lebih
bangga jika karyanya diterbitkan oleh penerbit mayor? Tentunya naskah karyanya
akan dikelola lebih profesional, penerbit mayor biasanya punya fasiliatas lebih
baik, modal, percetakan, SDM juga jaringan pemasaran yang lebih luas.
Dan... agar karyanya bisa masuk diterima diterbitkan oleh penerbit mayor harus melalui seleksi dengan tingkat persaingan sangat ketat. Contoh di Penerbit ANDI, tiap bulan naskah yang masuk bisa sampai 300 sd 500 naskah dan yang diterbitkan hanya 50 sd 60 judul saja. tentunya sisanya dikembalikan ke penulis atau DITOLAK.
Karena begitu sulitnya menembus penerbit profesional baik yang penerbit minor apalagi penerbit mayor, maka para penulis ada yang menerbitkan karyanya sendiri yang saat ini penerbit seperti ini kitas sebut dengan Pnerbit Indie.
Naskah buku seperti apa yang bisa
diterima dan diterbitkan oleh Penerbit Profesional seperti penerbit ANDI?.
Tentunya adalah semua naskah buku yang bisa dijadikan buku lalu laris dijual.
Berikut ini adalah pengelompokan buku yang bisa dijual dipasaran:
Kelompok besar buku dibagi menjadi 2 kelompok buku teks dan buku non teks, Buku teks adalah buku yang digunakan olah mahsiswa atau siswa dalam proses pembelajaran. Ditingkat sekolah disebut buku pelajaran disngkat BUPEL sedangkan untuk kelompok mahasiswa disebut buku perguruan tinggi disingkat PERTI.
Sedangkan buku non teks adalah
sebaliknya dan cenderung disebuat sebagai buku-buku populer karena memang
kontennya berupa apa saja yang populer dan dibutuhkan oleh masyarakat.
Ini contoh buku non teks.
Namun dalam prakteknya pemakaian buku oleh pembacanya tidak lagi terbagi-bagi menurut kelompok-kelompok tadi, apapun buku yang dibaca bisa dijadikan referensi untuk praktek kehidupan sehari hari maupun dalam rangka mendapatkan jenjang akademik yang lebih tinggi.
Penerbit adalah lembaga
profitable yang mencari keuntungan untuk bertahan hidup dan berkembang sehingga
karyawan sejahtera, komsumen puas dalam jangka waktu yg tidak terbatas. Penerbit
boleh dikatakan industri. Naskah yang masuk pun akan dianggap sebagai bahan
baku output industri, jika bahan baku bagus maka akan menghasilkan produk yang
bagus pula. Oleh karena itu para penulis dan calon penulis harus paham cara
berfikir industri penerbitan agar naskah tidak ditolak.
Ini adalah gambaran industri
penerbitan secara lengkap, namun jika disederhanakan akan menjadi seperti ini
Nah sekarang naskah seperti apa
yang bisa diteriama penerbit? Adalah naskah yang bisa dijadikan buku dan
bukunya laku terjual..
ini
pembobotan penilaiannya..
Ini adalah contih thema yang
memiliki trend yang baik bisa dilihat dari grafiknya ; selalu tinggi, stabil
dan tidak pernah menyentuh titik NOl.
Ini adalah bidang bidang baru karena Corona, nah thema thema yang membahas seputran bidang inilah yang kemungkinan laku.
Selanjutnya jika thema telah
bagus, penerbit akan mengecek REPUTASI penulisnya, salah satu dapat ditelusuri
dari Google Schoolar..seperti ini, perhatikan angka-angkan... bagimana dengan
nama bapak ibu?
lalu apa pertimbangan penerbit
dalam menentukan oplah atau jumlah cetak, inilah dasarnya:
Penerbit akan menentukan oplah
tinggi jika buku itu dinilai mempunyai market lebar dan lifesycle panjang. Life
cycle panjang artinya buku itu akan tetap relevan dimasa yang akan datang dalam
waktu yang panjang.
Coba camkan kalimat diatas..
Tapi apakah seorang penulis yang telah berhasil hanya mendapatkan kebanggaan-kebanggaan saja ? Tidak seorang penulis yang berhasil setikdaknya akan mendapatkan ini semua.. lihat gambar..
Tidak hanya kepuasan batin yang didapat tetapi juga reputasi, karir yg semakin baik dang tentunya uang..
Dan inilah rinciannya..
Sekarang narasumber akan bertanya
kepada semua bapak ibu disini? Apakah bapak/Ibu termasuk dalam kategori PENULIS
IDEALIS (tidak butuh uang) atau PENULIS INDUSTRIALIS (yang harus mendapatkan
uang saat menulis) hehe?
Masuk dalam kwadran mana bapak
ibu?... yang disukai penerbiat adalah kwadran kanan atas yaitu IDEALIS
sekaligus INDUSTRIALIS
Sebagai penutup sebelum tanya
jawab narasumber ingin membaginkan slide-slide
berikut ini sebagai perenungan dan motivasi:
Bapak
Ibu termasuk orang orang pandai kan.. sayang kalau tidak menulis..
Apakah
bapak ibu disini adalah anak anak dari ulama besar? anak-anak dari raja?
Bila
jawabnya tidak .. maka menulislah agar hidup kita berguna bagi sesama
selamanya..
Teman teman semua... semua
berasal dari mimpi .. kejarlah mimpi itu... menjadi penulis kita akan
mendapatan segala yang kita inginkan.. menulis tidak mengenal usia... ada
banyak penulis bukunya mendi best seller setelah penulisnya meninggal... tentunya
kita semua pernah baca kamus tulisasn hasan sadeli ya... sampau saat ini anak
cucunya masih menikmati warisan royaltynya..




























Semangat terus, Pak. Resume ke-3 sukses.
BalasHapusTerima kasih, Bunda
HapusSemangat pak, sedikit masukan, lebih baik hilangkan kata saya. Karena fungsinya menjadi ambigu, apakah saya itu bapak sendiri atau saya itu ucapan dari narasumber. Resume penulisnya bapak, bukan narasumber
BalasHapusTerima kasih, pak Ketua
HapusSemangat pak..kita maju bersma2
BalasHapusSiap dan terima kasih atas motivasinya, Bunda
HapusSemoga tulisan segera menjadi buku impian
BalasHapusTerima kasih atas atensinya semoga kita maju bersama
HapusSemangat pak siap-siap menjadi buku
BalasHapus