Sabtu, 21 Agustus 2021

Langkah Menyusun Buku Secara Sistematis

 Resume ke 9

Pertemuan ke              :      18
Tema                           :      Langkah Menyusun Buku Secara Sistematis
Narasumber                :      Yulius Roma Patandean, S.Pd
Gelombang                 :      20
Moderator                   :      Sri Sugiastuti (Ibu Kanjeng)

Hari itu setelah Shalat Jum'at saya dan putra ke 3 menuju ke kota Palu. Perjalanan kami dari Kabupaten Tolitoli ke Palu ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah, jaraknya sekitar 400 km. Untuk menuju ke kota Palu dari Tolitoli dapat menempuh dua jalur, Pantai Timur dan Pantai Barat. Kondisi jalan yang dilalui dibeberapa tempat ada yang cukup ekstrem. Kami pada hari itu melewati jalur Pantai Timur.

Dari Kabupaten Tolitoli jalur yang dilalui yang kami anggap ekstrem adalah Gunung Pangi, Pasir Putih (Gunung Tinombala) serta Kebun Kopi. Di Gunung Tinombala inilah pernah terjadi peristiwa tragis beberapa puluh tahun yang lalu. Kejadiannya adalah jatuhnya pesawat Merpati yang menewaskan beberapa orang penumpangnya. Termasuk kami pada hari itu dapat ujian dari Allah SWT yakni terhalang longsoran yang diakibatkan karena hujan turun begitu deras beberapa jam lamanya.

Pada saat itu saya berinisiatif kepada putra ke 3, agar kita berbalik memutar arah ke jalur Pantai Barat. Selanjutnya kendaraan yang kami tumpangi memutar arah dan setelah mendaki beberapa ratus meter, kami bertemu pengendara sepeda motor, mereka menyampaikan bahwa beberapa ratus meter ke atas ada pohon besar yang tumbang rebahannya melintang memotong jalan. Terpaksa kami memutar balik lagi kendaraan menuju penurunan dekat longsoran yang jarak sekitar 3 km dari tanah datar yakni Mensung yang sudah termasuk wilayah Pantai Timur.

Kami tiba di dekat longsoran sekitar pukul 14.00 siang, nanti pada pukul 17.20 baru bisa tembus. Hal ini bisa terjadi karena adanya bantuan gotong royong dari masyarakat sekitar yang dipimpin langsung oleh kepala desanya. Biasanya kalau kami berangkat dari Tolitoli pukul 05.00 maka kami tiba di Palu sekitar pukul 16.00 tetapi karena kondisi jalan yang tidak seperti biasanya, kami tiba di Palu pada pukul 24.00.

Dimana pada malam itu saya dan putra ke 3 tiba di Palu masih sempat membuka WA Belajarmenulis asuhan Bapak kita Omjay. Saya sempatkan untuk mengisi daftar hadir, karena bagi saya "Tidak ada kata terlambat, apa lagi dalam menuntut ilmu". Rasa capek boleh saja dirasakan badan ini tetapi semangat menulis yang mengalahkannya. Materi pada malam itu adalah  Langkah Menyusun Buku Secara Sistematis yang diasjikan oleh narasumber Bapak Yulius Roma Patandean, S.Pd Beliau berasal dari Tator (Tanah Toraja) yang terkenal Kebudayaannya di Manca Negara  yaitu upacara Kematian.

Moderator Ibu Sri Sugiastuti dengan sebutan Ibu Kanjeng yang sudah akrab di telinga para penulis-penulis hebat.  Seperti biasanya moderator  membuka dengan salam nasional serta menyapa para sahabat-sahabat hebat sekaligus memperkenalkan secara singkat profil narasumber. Untuk perkenalan diri narasumber, bisa menyimak di link dibawah ini serta mempersilahkan narasumber yang disingkat dengan nama Bang Roma untuk memulai menyajikan materinya pada malam itu.

https://romadean.blogspot.com/2021/01/profil.html

Narasumber yakin bahwa bapak/ibu para sahabat penulis telah menyiapkan rancangan bangunan bukunya setelah beberapa pertemuan. Baik berupa rancangan naskah resume materi maupun rancangan naskah buku solo. Oleh karenanya, malam ini narasumber akan berbagi pengalaman dalam Menyusun Buku Secara Sistematis sesuai yang narasumber lakukan selama ini.

Sebelum menyusun naskahnya untuk diterbitkan, narasumber menitip pesan:

Yakinlah dengan kualitas naskah buku yang telah disiapkan. Bagaimana pun sederhananya naskah tulisan kita, ia akan memiliki tempat tersendiri di hati pembacanya. Hindari rasa minder, bahwa naskahnya tidak baik. Pegang prinsip, naskah buku yang ada sangat baik untuk diterbitkan. Dengan demikian, akan ada rasa percaya diri dan kepuasan dalam melakukan pengeditan dan penyusunan naskah buku yang sistematis.

Selanjutnya, narasumber akan berbagi tutorial cara Menyusun Buku Secara Sistematis versi Yulius Roma Patandean.

https://youtu.be/jXPr59aWJSc  (Video Cara membuat Bab, Sub Judul, Tulisan pada Buku Secara Otomatis)

https://youtu.be/eePQwyHAcjw (Video cara membuat daftar isi, kutipan, indeks, dan daftar pustaka Otomatis)

Nah, bagi para sahabat yang tertarik menerbitkan buku di Penerbit ANDI, sebaiknya naskah buku dibuatkan indeks. Nah. ini cara yang narasumber pakai.


https://youtu.be/mS8bfNZT-rA

Langkah-langkahnya sudah narasumber bagikan, sekali lagi menurut versi Yulius Roma Patandean ya....
Agar, terbiasa dengan penyusunan naskah sistematis ini, maka narasumber menitip untuk CLBK.
Bukan Cinta Lama Bersemi Kembali
Tetapi, Coba Lakukan Biasakan dan Konsisten.

Memulai sesuatu tentunya tidak mudah. Sama halnya dalam mengumpulkan percikan-percikan naskah buku, demikian pula dalam mengedit dan menyatukan percikan naskah kita.

Biarkan saja percikannya menyebar sana-sini di laptop, ketika dinikmati penyusunannya akan menghasilkan karya yang luar biasa.

Selanjutnya moderator Ibu Kanjeng mengajak memasuki sesi tanya jawab. Pada sesi tanya jawab ini hanya 6 orang penanya. Ada pun pertanyaan dan jawaban narasumber dapat disimak pada tulisan di bawah ini :

P1
Mau nanya
Helwiyah
Bekasi

1.     Bagaimana  cara menjaga konsistensi dalam menulis?
Maklumlah  emak emak banyak tugas domestik
2.     Apa kendala  yang bang Roma temui dalam proses menulis hingga jadi buku dan apa solusinya?

J1
Teruntuk: Helwiyah, Bekasi

1.     Bagaimana  cara menjaga konsistensi dalam menulis?

Sebagai guru, apalagi masa pandemi, pekerjaan tiada habisnya. Konsistensi narasumber pelihara dengan menyiapkan hari khusus untuk menulis, fokus di hari Minggu untuk menyatukan percikan tulisan, jika kepepet waktu untuk penyelesaian naskah , maka narasumber mengedit, menambah dan melengkapi naskah setiap malam. Sejak narasumber mengikuti pelatihan ini, jam tidur narasumber paling cepat jam 11 malam Waktu Indonesia Tengah.

2.     Apa kendala  yang bang Roma temui dalam proses menulis hingga jadi buku dan apa solusinya?

Kendala utama adalah *Manajemen Waktu. Solusinya adalah memisahkan waktu antara bekerja, kegiatan masyarakat dan kuliah. Jangan pernah menunda untuk menuliskan ide untuk naskah buku jika sudah muncul di pikiran. Minimal simpan di handphone.

P2 
Pak Roma ijin bertanya : Saya Dail dari Serang.  Makin kenal makin kagum pada bapak. Pertanyaan Saya : Mengapa setelah menjadi penulis hebat, bapak juga menjadi pembuat channel YouTube ?  Petanyaan 2 : Mana yang akan bapak pilih jika harus milih 1 saja, dan apa alasannya?
1.    Keduanya masih narasumber jalankan sampai sekarang. Oya satu prinsip yang narasumber pegang adalah Jangan menulis karena kebutuhan naik pangkat (bagi guru PNS), jika ini dipegang tentu motivasi dan niat menulisnya kurang power. Terkait Channel YouTube, sebenarnya YouTube narasumber buat untuk melayani siswa-siswa narasumber belajar secara tunda selama program belajar dari rumah. Dan kondisi ini masih berlangsung sampai sekarang. Hampir semua tatap muka pembelajaran narasumber, tersimpan di YouTube sejak tahun lalu hingga hari ini. Narasumber tidak peduli berapa subscribernya dan viewernya, niat saya hanya menyediakan sarana belajar untuk siswa yang narasumber ajar sebagai respon atas permintaan mereka, bahwa selama PJJ mereka butuh penjelasan gurunya. Mungkin YouTube kasihan sama narasumber sehingga diberi label monetisasi.
2. Jujur keduanya tidak akan saya lepaskan. Menulis buku telah mendewasakan pikiran narasumber dan YouTube sebagai sarana berbagi ke siswa narasumber. Jadi keduanya adalah satu kesatuan.

P3
Ms.Phia
Kota Sukabumi
Question

1.     Dalam menulis latar belakang sebuah buku, apakah lazim jika diawali dengan kalimat tanya (pertanyaan retorikal)?
2.     Apakah ada ketentuan/ minimal jumlah bab dalam menulis  sebuah buku.

P3

To: Ms.Phia, Kota Sukabumi
1.     Why not? Tentu bisa. Justru ini bisa menggelitik pembaca. Bagi narasumber, itu adalah sebuah kekhasan dan karakteristik seorang penulis. Menawarkan sebuah hal yang baru tentunya memuaskan pembaca.
2.    Untuk menulis buku non fiksi, saran saya minimal 5 BAB. Seperti yang kita ketahui standar penerbitan buku adalah 40 halaman versi UNESCO, kertas A5, ukuran font 12, Times New Roman. 5 BAB dengan masing-masing 20 halaman isi akan menghasilkan satu buku dengan ketebalan isi 100 lembar. Dan sebaiknya buku tidak terlalu tipis agar ikut juga memuaskan penerbit. Ibu Kanjeng, pak Mukminin dan pak Brian tahu banyak masalah ini

P4
Nama: Agustan
Asal: Kota Palopo
Pertanyaan: Selain menulis kelengkapan buku secara sistematis, apa keuntungan lain dari menyusun naskah buku secara otomatis tersebut.
Kalau melihat dari kecepatan membuatnya, apakah secar manual tdk kalah cepat?

P4
To: Agustan, Asal: Kota Palopo
Halo pak Agustan, tetangga daerah. 😁
Sebenarnya tergantung kebiasaan menulis saja. Namun, dari pengalaman pribadi, dengan membuat otomatis, jauh menghemat waktu, terutama jika memindahkan bagian naskah dari satu bab ke bab lainnya.
Membuat otomatis juga sebenarnya turut membantu bagian penerbit, karena naskah kita rapi mulai dari lembaran pertama hingga bagian Sinopsis.

P5

Pertanyaan:
Nama           : Ali Mustofa
Alamat         :  Sragen
Gelombang : 19
Bagaimana cara mengatasi rasa kecewa manakala naskah yang dianggap baik ternyata ditolak, lalu apa solusi yang harus dilakukan

P5

To: Ali Mustofa, Sragen
Belajar pada pacaran....jika cinta pertama ditolak, yakinlah masih banyak peminat. Kata Seorang aktor di sinetron Dunia Terbalik, Cinta akan menemukan jalannya
Demikian halnya dengan buku. Jika satu dua penerbit mayor belum jatuh hati pada naskah, mungkin niche mereka belum ketemu dengan naskah kita. Cobalah menawarkannya ke penerbit Indie. Bagi 
narasumber tidak ada kata kecewa dalam menulis. Untuk melepaskan penat menulis, telah hadir penerbit Indie yang berkenan memberikan jejak keabadian kita di dunia literasi.
Terima kasih

P6

Amalia
Berau-Kaltim
Setelah membaca CV Pak Roma (dapat menghasilkan 5 karya buku dalam setahun)
Apa kiat khusus yang dapat ditularkan kepada kami agar dapat mengikuti jejak bapak?

P6
To: Amalia, Berau-Kaltim
Kiatnya: CLBK
Ini pertanyaan terakhir setelah dijawab. Bisa langsung closing statement.

Pertanyaan yg hanya  6 tapi berbobot dan bisa mewakili Bapak Ibu yang ikut belajar malam ini.

Itulah kiat narasumber dalam menulis. Selebihnya, miliki sebuah motivasi bahwa narasumber harus menerbitkan naskah buku melalui tetesan keringat narasumber, biarkan emosi itu tercampur dalam buku perdana yang akan diterbitkan. Pada buku perdana akan ada rasa capek, galau, pusing, kecewa dan niat untuk menyerah. Pastikan naskah buku perdana terbit. Cukup di penerbit Indie. Selanjutnya, rasakan sensasinya, bahwa Anda sudah mencatatkan nama pada keabadian (menguti pak haji Thamrin Dahlan . Terkait jumlah naskah yang narasumber terbitkan, mungkin ada hubungannya dengan masa pandemi. Kurangnya kegiatan tatap muka di kelas memberi narasumber kebiasaan baru.

P 7

To : Mangatur Panjaitan, Batam

Dari hati yang paling dalam, saya memilih non fiksi. Buku non fiksi mudah ditulis. Sumbernya tak terbatas, tanpa melalui dunia khayalan. dari aktifitas mengajar bisa dibukukan, pengalaman jalan-jalan, kuliner hingga memoar, dll.

Terkait Sinopsis, isinya adalah ringkasan buku, dan kepada siapa pembaca buku itu ditujukan, apakah masyarakat umum atau terbatas ke kalangan tertentu seperti mahasiswa, guru, dosen, dll.

Time is up. Saatnya closing statement  dan kita tutup setelah itu ya.

Jadi, menulislah dengan niat yang mulia bahwa harus ada jejak literasi yang ditinggalkan sebelum sang pencipta memanggil. Tidak ada kecewa dalam menulis, namun sesungguhnya yang ada adalah kepuasan bathin. Jangan pernah berhenti menulis. Menulislah selagi mampu. 

Selamat malam.

Salam Literasi.


7 komentar:

  1. Mantaaab, resume lengkap, semoga terwujud segala impian

    BalasHapus
  2. Semangat belajar yang luar biasa. Dalam kondisi perjalanan yang berat masih berjuang untuk belajar. Semoga impian menerbitkan buku terwujud.

    BalasHapus
  3. Terima kasih banyak Ibu-Ibu atas segala dukungan dan motivasinya

    BalasHapus

DARI MANA IDE MENULIS DATANG?

  Resume ke 11   Pertemuan ke               :       20 Tema                         ...